29 Orang Meninggal Akibat Gempa Magnitudo 7,2 di Haiti

Kerusakan bangunan di Haiti akibat gempa. [Foto: AP]

HAITI - Sebanyak 29 orang dilaporkan meninggal dalam bencana gempa Magnitudo 7.2 di Kota Petit Trou de Nippes, sekitar 150 kilometer di sebelah barat Ibu Kota Port-au-Prince, Haiti.

Menurut Direktur Garda Sipil Haiti, Jerry Chandler, saat ini tim penyelamat menemukan 29 orang penduduk meninggal akibat gempa. Dia menyatakan sudah mengutus tim penyelamat untuk mencari korban selamat dan meninggal di wilayah lain, seperti dilansir Associated Press, Minggu (15/8/2021).

Perdana Menteri Haiti, Ariel Henry, menetapkan Haiti dalam status darurat bencana selama satu bulan. Dalam jumpa pers dia menyatakan saat ini belum meminta bantuan dari negara lain sampai tingkat kerusakan bisa ditaksir.

Dalam rekaman video amatir terlihat puing-puing bangunan berserakan di jalanan akibat bangunan runtuh setelah diguncang gempa. Sebagian besar korban meninggal tertimbun reruntuhan bangunan.

Guncangan gempa yang sangat keras membuat seluruh penduduk terkejut.

"Saya bangun dan langsung tidak punya waktu untuk pakai sepat. Kami masih ingat ketika terjadi gempa pada 2010 dan yang saya lakukan hanya bisa berlari. Saya kemudian ingat dua anak dan ibu saya masih di dalam rmah. Tetangga saya masuk dan meminta mereka keluar. Kami kemudian lari ke jalan," kata seorang penduduk Port-au-Prince, Naomi Verneus (34).

Haiti pernah diguncang gempa dengan Magnitudo 7 pada 12 Januari 2010 silam, yang menelan korban jiwa hingga 300 ribu orang.

Gempa besar yang mengguncang Haiti kali ini terjadi setelah lebih dari satu bulan peristiwa pembunuhan terhadap Presiden Jovenel Moise. Selain itu penduduk Haiti juga diperingatkan akan ancaman Badai Tropis Grace, yang kemungkinan menghantam negara itu pada Senin malam atau Selasa pagi pekan depan.

Dua hal itu membuat penderitaan masyarakat Haiti semakin bertambah, yakni akibat kekacauan politik, tingginya tingkat kejahatan dan ancaman badai.

"Kami prihatin gempa ini membuat negara ini semakin diliputi krisis di samping yang sudah terjadi yaitu kekacauan politik setelah pembunuhan presiden, Covid-19 dan ancaman kelangkaan bahan pangan," kata Juru Bicara lembaga nirlaba World Vision Haiti, Jean-Wickens Merone.

Menurut seorang pendeta Katolik di Haiti, Fredy Elie, jalan menuju daerah yang terdampak gempa dikuasai oleh kelompok kriminal atau geng. Padahal penduduk setempat sangat membutuhkan bantuan.

"Ini saatnya membuka jalan bagi mereka yang ingin membantu. Mereka membutuhkan bantuan dari kami," kata Elie. []

Komentar

Loading...