Tegang dengan AS, Rusia-China Rencana Latihan Perang Bersama

Ilustrasi latihan perang militer Rusia dan China. [Foto: Istimewa[

BEIJING - Rusia dan China akan melakukan latihan militer bersama pada Agustus mendatang. Latihan tempur yang melibatkan 10.000 tentara itu rencananya digelar di wilayah otonomi Ningxia Hui, China.

"Tujuan dari latihan ini adalah untuk mengkonsolidasikan dan mengembangkan kemitraan kerja sama strategis yang komprehensif antara China dan Rusia," kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Wu Qian Kamis (29/7/2021), seperti dikutip dari South China Morning Post.

"Latihan ini juga akan semakin menunjukkan tekad dan kemampuan kedua belah pihak untuk memerangi pasukan teroris dan bersama-sama menjaga perdamaian dan keamanan kawasan."

Wu mengatakan pasukan Komando Teater Barat Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) akan ambil bagian dalam latihan tersebut. Mereka akan bergabung dengan pasukan Rusia dari Distrik Militer Timur.

Latihan ini akan melibatkan sejumlah alat tempur, pesawat, artileri, dan peralatan lapis baja. Latihan juga meningkatkan kemampuan pasukan dalam melakukan pengintaian bersama, peringatan dini, serangan informasi dan elektronik, serta serangan bersama.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu memastikan negaranya menyambut undangan dari China untuk ambil bagian dalam latihan tersebut.

"Kami telah menemukan bentuk kerja sama baru melalui upaya bersama dan terus melakukan kerja sama yang efektif," kata Shoigu seperti dilaporkan kantor berita Sputnik.

Rusia telah berusaha untuk meningkatkan hubungan dengan China sejak 2014, ketika hubungan politiknya dengan Barat merosot ke titik terendah pasca Perang Dingin atas pencaplokan Krimea dari Ukraina.

Latihan perang ini dilakukan saat kedua negara sama-sama tengah menghadapi hubungan yang memburuk dengan Amerika Serikat.

Pada hari Kamis, Kementerian Pertahanan China menuduh AS sebagai penyebab terbesar gesekan di Selat Taiwan setelah kapal perusak USS Benfold melewati daerah tersebut.

China juga menuduh AS sebagai ancaman keamanan siber terbesar.

Washington dan Moskow juga saling bertikai atas berbagai masalah termasuk serangan siber dan pengaruh Rusia di Ukraina.

Pengamat militer Song Zhongping melihat China dan Rusia sama-sama saling berupaya meningkatkan hubungan.

"Pertama, sangat penting bagi China dan Rusia untuk mengadakan latihan bersama ini untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional, terutama pada saat hegemoni AS masih ada," kata mantan instruktur PLA itu.

"Memperkuat kerja sama militer akan membantu menjaga perdamaian dan stabilitas regional dan mematahkan ancaman yang ditimbulkan Amerika Serikat."

"Kedua, terorisme adalah masalah global, dan latihan bersama yang ditujukan untuk kontraterorisme dapat membantu menyelesaikan masalah ini di kawasan," ujarnya. []

Komentar

Loading...