Lobster Mulai Susah Dicari di Simeulue

Ilustrasi lobster. [Foto: Pixabay]

SINABANG - Salah satu hasil laut andalan Kabupaten Simeulue berupa lobster saat ini mulai susah dicari setelah ada larangan menggunakan kompresor sebagai alat untuk menyelam.

Mahlil, agen dan penampung lobster di Sinabang, Sabtu (17/7/2021), mengaku langkanya lobster itu, karena para nelayan saat ini tidak bisa lagi menyelam di kedalaman setelah ada larangan menggunakan alat selam berupa kompresor.

"Saat ini lobster mulai susah dicari, nelayan tidak bisa lagi menyelam dengan kompresor karena mereka takut akan ditangkap," kata Mahlil.

Menurut Mahlil, saat ini para nelayan hanya bisa menyelam di laut dangkal, sehingga untuk mendapatkan lobster dalam jumlah banyak kesulitan.

"Lobster inikan saat ini hidupnya di laut lumayan dalam, kalau tidak pakai alat bantu pernapasan saat menyelam hewan laut ini tidak bisa didapatkan lagi," jelas Mahlil.

Kata Mahlil, saat ini jangankan untuk dipasarkan keluar daerah, untuk kebutuhan di Simeulue sendiri, lobster ini sudah tidak cukup.

Meski demikian kata Mahlil, saat ini harga lobster masih dalam kondisi normal. Lobster jenis bambu dan mutiara dijual Rp350 ribu per kilogram.

"Tinggal itu lobster yang ada, itupun jumlahnya terbatas, kalau jenis lain memang tidak ada lagi," jelas Mahlil.

Anto (43), seorang nelayan Simeulue menuturkan sejak ada pelarangan penggunaan kompresor saat menyelam hasil tangkapan nelayan turun secara drastis.

"Saat ini hasil tangkapan nelayan jauh menurun, bukan hanya lobster, ikan, tripang, serta berbagai hasil laut saat ini sudah susah didapat," ucap Anto.

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Simeulue Charles saat dikonfirmasi masih mengatakan saat ini kondisi ekspor hasil laut Simeulue masih stabil.

Charles mengakui produksi dari nelayan sedikit menurun karena faktor cuaca.

"Sementara ekspor hasil laut kita masih stabil, cuma saja produksi dari nelayan yang menurun karena cuaca di laut yg kurang bagus," ucap Charles. []

Komentar

Loading...