Perusahaan Cina Berencana Bangun Pabrik Metanol di Aceh, Nilai Investasi Mencapai Rp 7,6 Triliun

Ilustrasi [FOTO: LIPUTAN6.COM/Chandra Asri]

JAKARTA – PT Powerindo Cipta Energy dan China National Chemical Engineering Corporation meneken perjanjian kerja sama pembuatan uji kelayakan atau feasibility study proyek coal to methanol. Proyek gasifikasi batu bara ini rencananya didirikan di Aceh dengan investasi mencapai US$ 560 juta atau setara Rp 7,6 triliun.

“Proyek ini akan menyerap tenaga kerja sebanyak 600–700 orang. Berdasarkan perencanaan, proyek akan memasuki tahap konstruksi pada pertengahan 2022,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya, Senin (18/10/2021).

Pabrik ini akan berlokasi di mulut tambang dan mengolah 1,1 juta ton batu bara menjadi 600 ribu ton metanol per tahun. Menurut Agus, proyek ini akan memiliki kontribusi besar dalam industri hilirisasi di Tanah Air.

Ia menjelaskan, terdapat hilirisasi industri setidaknya memberi lima manfaat besar bagi perekonomian.

Manfaat yang pertama, kata Agus, memperkuat daya saing produk hasil hilirisasi yang dapat meningkatkan ekspor, menjadi bagian dari supply chain global, serta mendorong subtitusi impor.

“Kemudian yang kedua, meningkatkan penciptaan lapangan kerja dengan ekspansi dan investasi baru,” katanya.

Ketiga, sebagai upaya memperkuat nilai tambah industri di dalam negeri, yang akan memperbesar kontribusinya bagi perekonomian.

“Keempat, mengakselerasi transfer teknologi di Indonesia. Spillover dari teknologi ini bisa menumbuhkan iklim kewirausahaan dan inovasi-inovasi baru,” ujarnya.

Dan yang terakhir, kata Agus, dapat meningkatkan subtitusi impor yang akan menekan defisit neraca perdagangan.

Selanjutnya, Agus mencatat, nilai ekspor bahan kimia dan barang dari bahan kimia mencapai US$ 11,85 miliar pada tahun lalu. Sementara itu, nilai impornya mencapai US$ 18,25 miliar sehingga terdapat defisit US$ 6,4 miliar.

Dengan kondisi neraca perdagangan ini, menurut dia, perlu upaya untuk mempercepat peningkatan investasi di sektor kimia. Adapun industri metanol merupakan salah satu sektor prioritas yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan industri di hilirnya.

“Dengan kebutuhan metanol mencapai 1,2 juta ton pada 2020, pembangunan industri gasifikasi coal to methanol diharapkan dapat berkontribusi pada substitusi impor dan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata dia.

Menurutnya, industri metanol merupakan bahan baku/bahan penolong pada industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood dan industri lainnya.

“Metanol juga digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan biodiesel. Selain itu, metanol bisa diolah lebih lanjut menjadi DME yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar,” imbuhnya.

Agus mengatakan, nilai substitusi impor dari metanol akan semakin besar dengan berkembangnya industri hilir ini. Ia mencontohkan, kebutuhan resin sintetik yang merupakan bahan baku/bahan penolong pada industri seperti cat, tekstil, adhesive,maupunthinner masih dipenuhi dari impor. Impor resin sintetik pada 2020 mencapai 700 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 1,5 miliar.

Adapun saat ini, pemerintah juga tengah mendorong substitusi penggunaan bahan bakar LPG dengan DME. Hal ini dilakukan mengingat produksi LPG setiap tahun yang semakin menurun. Lebih dari 75 persen kebutuhan LPG dalam negeri dipenuhi dari impor dengan nilai mencapai US$ 2,5 miliar di tahun 2020.

“Dengan gambaran tersebut, keberadaan proyek gasifikasi batu bara setidaknya memberikan potensi subtitusi impor minimum sekitar Rp 40 triliun per tahun,” katanya.[]

Komentar

Loading...