Mantan Perambah, Kini Jadi Pengayom Hutan Leuser

Syamsudin alias Pak Ogek sedang menebang pohon kelapa sawit yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), Stasion Penelitian Soraya, Kecamatan Sultan Daulad, Kota Subulusalam. [Foto: Acehonline.coZulkifli].

SIAPA SANGKA, dulu dikenal sebagai perambah hutan, kini berubah menjadi petugas Restorasi Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Terutama menanam pohon di kawasan hutan yang telah rusak, terutama di sekitar kawasan pusat penelitian soraya, serta di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) tepatnya di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

Namanya Syamsudin (55) atau akrab disapa Pak Ogek. Pria kelahiran Desa Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam pada tahun 1966 ini jasanya sangat berpengaruh untuk kelestarian hutan di kawasan ekosistem leuser.

Meski dahulu suka melakukan penebangan liar dikawasan hutan Leuser untuk dijadikan kebun, kini Pak ogek menjadi orang yang melakukan restorasi atau pemulihan kembali hutan tersebut. Pada tahun 2016 Pak Ogek direkrut oleh salah satu lembaga lingkungan, yakni Forum Konservasi Leuser (FKL) sebagai Boad Man.

Dalam ceritanya dengan acehonline.co, Jumat 23 April 2021, dia mengaku dari situlah awal kecintaannya terhadap lingkungan mulai muncul, karena sering bepergian untuk antar jemput petugas konservasi, maupun para peneliti lingkungan yang datang dari berbagai tempat, baik dari dalam maupun luar negeri.

Dengan dilakukan pendekatan emosional dan edukasi yang tidak henti diberikan pihak FKL kepada Syamsudin, akhirnya dia berubah haluan. Kini, Pak Ogek dipercaya sebagai manager camp "Lae Soraya" yang bertugas untuk pembibitan pohon, bagian dari program restorasi atau pemulihan kembali fungsi hutan dikawasan tersebut.

“Pak Ogek atau Pak Syamsudin ini sangat berpengaruh disini, karena Dialah yang sangt mengetahui seluk beluk Masyarakat dan Adat Istiadat, serta kearifan lokal disini.” ujar Ibnu Hasyim, selaku Manager Riset, Edukasi dan Databes FKL.

Lebih lanjut dikatakannya, tanpa Pak Ogek, dirinya berfikir sangat mustahil untuk mereka lakukan program-program restorasi dikawasan hutan lindung yang sudah rusak itu, karena pendekatan dengan masyarakat disini tidak gampang, apalagi pernah dilakukan namun gagal.

Membasmi Pohon Sawit di sepanjang Sungai Alas - Singkil

Hampir sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas – Singkil, yang masuk Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) telah dijadikan kebun sawit oleh masyarakat sekitar, sehingga semakin hari hutan lindung itu semakin menyusut. Selain itu, air sungai sekarang ini sudah keruh, berbeda dengan kondisi air beberapa tahun sebelumnya yang masih jernih.

Diduga, hal itu terjadi akibat adanya perambahan hutan disekitaran sungai, baik akibat praktek Ilegal loging maupun dirubah fungsi hutan menjadi kebun sawit warga, sehingga terjadi perubahan kualitas dan kuantitas air sungai.

Sebelum pohon sawit itu dipotong, Pak Ogek sendiri ditugaskan untuk mendekati warga yang menanam sawit di kawasan hutan lindung tersebut, kemudian meminta agar lahan itu diserahkan kepada pemerintah untuk dikembalikan fungsi hutan seperti semula.

Pria Paruh baya bersama dua anggotanya ini menebang pohon sawit yang masuk kekawasan hutan lindung tersebut. Kemudian mereka menenam pohon lain yang bisa dimanfaatkan untuk ekonomi seperti, jengkol, jernang, pohon pete, durian, pohon kapur dan tanaman pohon lainnya.

Menurut Pak Ogek, masyarakat sekitar dahulunya tidak mengetahui bahwa kawasan tersebut masuk kekawasan hutan lindung, karena yang warga ketahui, sebelum indonesia merdeka kawasan tersebut merupakan daerah pemukiman, sehingga masyarakat sekitar terus membuka hutan untuk dijadikan perkebunan.

“Dulunya masyarakat tidak tahu bahwa ini masuk kawasan hutan lindung, sebab dahulu kawasan ini merupakan pemukiman warga,” ujar Syamsuddin alias Pak Ogek.

Syamsudin alias Pak Ogek menanam pohon akar tunggal lainnya di lokasi bekas perkebunan sawit yang telah ditebang. [Foto: Acehonline.co/Zulkifli]
Setelah pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Aceh, melalui KPH Wilayah 6 mengikat hubungan kerjasama konservasi dengan Forum Konservasi Leuser, program sosialisasi kawasan hutan itu dijalankan.

Selain itu, manyarakat juga tidak mengetahui bahwa kawasan DAS yang tidak boleh ditanami kelapa sawit atau tanaman yang menyerap air lainnya sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai.

Setelah rutin diberikan penyadartahuan kepada masyarakat bahwa pentingnya melestarikan hutan untuk kehidupan baik Manusia maupun Fauna lainya, serta juga dilakukan pendekatan emosional oleh pak ogek. Selama satu tahun terakhir ini, semakin banyak warga yang sadar untuk melestarikan hutan dan merelakan kebun sawit yang sedang produktif itu untuk ditebang dan ditanami pohon lain.

“Ini kan mereka sudah tahu bahwa kawasan ini masuk kehutan lindung. Program restorasi dan pembibitan juga sudah berjalan. Kupengaruhi Kupengaruhi mereka agar menyerahkan kebunnya kepemerintah,” katanya.

Sejauh ini, Pak Ogek dan timnya sudah menebang pohon sawit disekitar kawasan hutan lindung dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas - Singkil itu sebanyak 125 hektare, semantara yang ditargetkan seluas 250 hektare.

Selain Menjalankan Program Restorasi, Sosok Syamsudin Alias Pak Ogek Ini juga sangat Berjasa untuk Stasion Penelitian Soraya yang merupakan tempat para Ilmuan dan Akademisi lainnya melakukan Penelitianyang berhubungan dengan habitat Flora dan Fauna, Serta Perkembangan Ilmu Biologi Lainnya.

Hal Itu diakui Ibnu Hasyim, selaku Meneger Riset, Edukasi dan Database (RED) Forum Konservasi Leuser (FKL). "Pak Ogek merupakan orang tua setempat yang memiliki pengaruh besar bagi berdirinya Stasion Riset Soraya, Karena dia merupakan salah satu orang yang dihargai masyatakat disini," katanya.

Keberadaan Pak Ogek yang telah melakukan penyadartahuan kepada masyarakat, sehingga program-program yang dilakukan ini berjalan lancar.

Ibnu sangat mengharapkan kesadaran dari masyarakat untuk tidak merubah fungsi hutan, apalagi menanam sawit didaerah aliran sungai, hal itu sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air sungai serta iklim, yang juga mempengaruhi kehidupan makhluk yang hidup dimuka bumi. []

Komentar

Loading...