Kasus Gajah Mati Tanpa Kepala di Aceh Timur Dilimpahkan ke Kejaksaan

Jaksa memperlihatkan barang bukti kasus gajah mati tanpa kepala yang dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Aceh Timur. [Foto: Acehonline.co/Zulkifli]

IDI - Penyidik Polres Aceh Timur menyerahkan para tersagka dan barang bukti kasus gajah mati tanpa kepala ke kejaksaan setempat, untuk melanjutkan proses hukum tingkat II.

Kegiatan penyerahan berlangsung di ruang penyidikan tahap II, Gedung Kejaksaan Negeri Aceh Timur, Selasa (5/10/2021), yang diterima Kasi Pidum, Irvan Najjar Alavi, didampingi Jaksa yang menangani perkara, yakni Harry dan Iqbal.

Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Timur, Semeru, melalui Kasi Pidum, Irvan Najjar Alavi, mengatakan pihaknya telah menerima berkas, para terdakwa, serta barang bukti kasus gajah tanpa kepala yang ditemukan mati di kawasan HGU PT Bumi Flora, Desa Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur beberapa waktu lalu.

"Hari ini pihak penyidik Polres, menyerahkan berkas perkara kasus gajah tanpa kepala yang ditemukan di Aceh Timur beberapa waktu lalu, untuk melanjutkan proses hukum tinggat II," kata Irvan.

Adapun para terdakwa tersebut yakni, JN, (35) Warga Desa Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur yang bertindak sebagai pelaku eksekusi gajah.

Semenatara terdakwa lainnya berinisial, EM (41), warga Kecamatan Banda Baru, Kabupaten Pidie Jaya, SN (33), warga Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, JF (50) warga Kecamatan Cimanggis, Kabupaten Depok, Jawa Barat, dan RN (46) warga Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang masing-masing berperan sebagai agen dan pembeli bagian tubuh satwa dilindungi.

Proses pelimpahan tersangka dan barang bukti kasus gajah mati tanpa kepala di Aceh Timur ke kejaksaan. [Foto: Acehonline.co/Zulkifli]
Untuk terdakwa JN (35), kata Irvan, dijerat dengan pasal 21 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda sebersar Rp 100 Juta Rupiah.

Sementara untuk terdakwa EM (41), SN (33), JF (50) dan (RN) dijerat dengan pasal 21 ayat (2) huruf b dan d, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda sebersar Rp 100 Juta Rupiah.

"Kami akan menuntut para terdakwa dengan ancaman maksimal, agar bisa memberi efek jera kepada sipelaku, serta memberi pengajaran bagi manusia lainnya untuk tidak menyakiti satwa liar dan tetap menjaga ekosistem alam," jelas Irvan.

Irvan juga mengatakan berkas perkara akan segera didaftarkan kepengadilan Negeri Idi untuk disidangkan. []

Komentar

Loading...