Kasus Pembunuhan Gajah di Aceh Timur Disidangkan

Sidang perdana Kasus Pembunuhan Gajah di Aceh Timur, Kamis (21/10/2021). [Foto: Zulkifli]

IDI - Lima terdakwa Kasus Pembunuhan Gajah di Kabupaten Aceh Timur kini stelah mulai disidangkan, Kamis (21/10/2021).

Ini merupakan sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan yang berlangsung di ruang sidang utama, Pengadilan Negeri Idi, Aceh Timur. Kelima terdakwa tidak dihadirkan keruang persidangan, namun menghadiri sidang secara virtual.

Sidang pembunuhan gajah ini terbuka untuk umum, yang dipimpin Apri Yanti,.SH.,MH., selaku Ketua Pengadilan Negeri Idi, juga bertindak Hakim Ketua dalam sidang tersebut dan ikut didampingi dua Hakim Anggota yakni, Ike Ari Kesuma,SH dan Zaki Anwar, SH.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang perkara ini yakni Harry Arvan,SH dan M Iqbal Zakwan,SH dari Kejaksaan Negeri Aceh Timur.

Prose pesidangan berlangsung lancar dan tertib. Di ruang sidang ikut disaksikan oleh sejumlah Aktivis lingkungan dari Forum Konservasi Leuser (FKL) dan lembaga Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA) .

Satu-persatu berkas perkara dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum. Meski menghadiri secara virtual, para terdakwa mendengar dengan baik saat berkas dakwaan dibacakan oleh JPU.

Dalam kesempatan itu, Jaksa Penuntut Umum, Harry Irvan mengatakan bahwa, ada lima terdakwa dalam kasus tersebut, yakni, JN (35), EM (41), SN (33), JF (50), dan RN (46).

Terdapat empat berkas perkara dari lima terdakwa tersebut, dimana tiga terdakwa ada berkas perkara masimg-masing. Sementara dua terdakwa lainnya dibuat dalam satu berkas perkara.

"Untuk perkara pembunuhan gajah ada lima terdakwa, yang mana tiga orang di antaranya ada masing-masing berkas, sementara dua orang lainnya dibuat dalam satu berkas perkara." kata Harry.

Para terdakwa tersebut dijerat dengan pasal yang berbeda. Untuk terdakwa JN (35), dijerat dengan Pasal 40 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Alam, Hayati dan Ekosistem dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp 100 juta Rupiah.

"Sementara terdakwa lain merupakan brokersnya, yakni penadah atau penyambung penjualan Gading tersebut dijerat dengan Pasal 840 KUHP atau Pasal Penadahan." jelas Harry.

Dalam kesempatan itu, Aktivis Lingkungan dari HAKA, Nurul Ikhsan berharap dengan dilakukan tindakan tegas seperti ini kepada pelaku pembunuhan satwa dilindungi ini, dapat memberi efek jera kepada mereka, serta pelajaran bagi yang lainnya untuk tidak melakukan hal yang serupa.

"Harapan kepada pihak-pihak terkait untuk lebih pro-aktif dalam melakukan upaya pencegahan, agar timbul kesadaran dari masyarakat khususnya yang hobi berburu agar tidak memburu satwa dilindungi." ujarnya.

Menurutnya, jika satwa terus diburu, akan membuat alam menjadi tidak seimbang, yang berdampak juga pada kehidupan manusia dimuka bumi.

"Seharusnya kita sangat bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karna menjadikan alam kita di Aceh, khususnya Aceh Timur masih menyisakan 4 satwa kunci dunia," katanya.

Keempat satwa kunci tersebut, sambung Ikhsan, yakni Gajah, Badak, Orang utan dan Harimau.

"Itu tidak ada di tempat lain, Kita harus bersyukur. Untuk itu, kita juga harus menjaganya dan saya berharap ini menjadi atensi bersama, bahwa ini bukan saja menjadi tanggung jawab pihak tertentu tetapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga keseimbangan alam ini," pungkas Ikhsan. []

Komentar

Loading...