Polda Aceh Ungkap Kasus Penjualan Sim Card Teregistrasi NIK Orang Lain

FOTO : Ilustrasi

BANDA ACEH - Kepolisian Daerah (Polda) Aceh mengungkap kasus penjualan Sim Card (kartu perdana selular) yang teregistrasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kepala Keluarga (NKK) orang lain di sejumlah wilayah di Provinsi Aceh.

Dirreskrimsus Polda Aceh Kombes Pol Soni Sanjaya didampingi Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy, Selasa (19/10/2021), mengatakan sejumlah wilayah yang selama ini terjadi penjualan kartu Hp tersebut, yaitu Kota Banda Aceh, Bireuen, Kota Lhokseumawe dan Aceh Tamiang.

Menurutnya, keberhasilan pengungkapan kasus ini berawal dari laporan masyarakat bahwa telah beredarnya kartu Perdana Seluler (MSISN) yang telah teregistrasi NIK dan NKK yang diperjual belikan di wilayah hukum Polda Aceh. Selanjutnya, Tim penyelidik melakukan penyelidikan di beberapa kota dimaksud.

Awalnya, kata dia, Pada Senin (11/10/2021) lalu penyelidik Subdit V Siber Polda Aceh melakukan penyelidikan di Kota Banda Aceh dan menemukan sebuah  toko dengan berinisial SP  di kawasan Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, kemudian penyelidik membeli satu buah kartu perdana seluler dari provider Telkomsel.

"Kemudian dilakukan pengecekan terhadap kartu perdana seluler yang telah diterima oleh penyelidik. Hasilnya,  didapatkan bahwa  kartu tersebut telah teregistrasi NIK dan NKK dari data penduduk di Jawa Tengah. Berdasarkan bukti tersebut penyelidik melakukan upaya hukum dengan mengamankan saksi berinisial WH dan barang bukti yang ada serta melakukan interview terhadap para saksi," ujar Soni Sanjaya.

Selanjutnya 14 sampai 15 Oktober 2021, tim penyidik bergerak keKabupaten Bireuen dan Kota Lhokseumawe, di sana mendapatkan Informasi bahwa banyak beredar kartu Perdana Seluler MSISN yang diperjual belikan oleh pedagang kartu di daerah tersebut yang berasal dari Kabupaten Aceh Tamiang.

"Pada 16 Oktober 2021 tim kita dan Satuan Reskrim Polres Aceh Tamiang melakukan pemantauan dan penyelidikan terhadap toko dengan inisial FD Ponsel, tim mendapat informasi bahwa toko tersebut memperjualbelikan kartu perdana selulertelah teregistrasi NIK dan NKK di wilayah hukum Aceh Tamiang, tim mengamankan barang bukti  ke Polres Aceh Tamiang serta melakukan pemeriksaan terhadap para saksi," sebut Dirreskrimsus Polda Aceh.

Dari hasil pengungkapan di sejumlah wilayah, petugas mengamankan barang bukti berupa 20 kotak Kartu perdana loop, dua kotak Kartu Axis, enam kotak Kartu perdana As (belum registrasi), empat kotak Kartu Telkomsel (aktif), 12 kotak Kartu Telkomsel (belum registrasi). Selain kartu perdana, Polisi juga mengamankan, sejumlah komputer dan laptop serta beberapa Modem aktif dan rusak.

Dia juga menambahkan, dalam kasus ini identitas ada dua orang saksi atau calon terlapor, masing-masing berinisial WL (36) warga Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh dan inisial RI (36) warga Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Adapun modus operandi yang dilakukan adalah dengan sengaja dan tanpa hak melakukan registrasi Kartu Perdana dengan menggunakan NIK dan NKK milik orang lain dan memperjualbelikan kepada pedagang kartu eceran yang ada di kabupaten dan kota.

Dalam tindak pidana ITE ini,  lanjutnya, Pasal yang disangkakan, yaitu Pasal 35 Jo pasal 51 ayat (1) UU ITE ttg manipulasi data / dokumen elektronik sehingga seolah - olah data yg otentik dan Pasal 94 UU No. 24 THN 2013 atas perubahan UU No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan terkait memfasilitasi dan atau memanipulasi data kependudukan dan atau elemen data penduduk

"Sementara ancaman hukumannya adalah dipidana dengan pidana penjara setinggi tingginya 12  tahun penjara,"  tutup Dirreskrimsus.[]

Komentar

Loading...