Rizieq Shihab Divonis 8 Bulan Penjara di Kasus Kerumunan Petamburan

Mantan pentolan FPI Rizieq Shihab. [Foto: AP]

JAKARTA - Mantan pentolan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab divonis 8 bulan penjara oleh majelis hakim dalam kasus kerumunan abai protokol kesehatan pencegahan virus corona (Covid-19) di Petamburan .

"Menjatuhkan pidana atas diri terdakwa Rizieq Shihab, Haris Ubaidillah, Shabri Lubis, Ali Alwi Alatas, Idrus alias Idrus Alhasyi, dan Maman Suryadi dengan pidana penjara masing-masing selama delapan bulan," kata Ketua Majelis Hakim Suparman Nyompa di PN Jaktim, Kamis (27/5/2021).

Vonis ini lebih rendah dari tuntutan jaksa. Jaksa sebelumnya menuntut Rizieq selama 2 tahun penjara dan pencabutan hak untuk menjadi pengurus organisasi masyarakat selama 3 tahun.

Hakim menyatakan lamanya terdakwa ditahan dikurangkan dari pidana yang dijatuhkan.

"Menyatakan terdakwa tetap dalam tahanan," kata hakim.

Dalam kasus ini Rizieq dinyatakan melanggar Pasal 93 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Diketahui, kasus kerumunan abai protokol kesehatan di Petamburan, Jakarta Pusat terjadi tak lama setelah Rizieq tiba di Indonesia usai sekian tahun berada di dari Arab Saudi. Rizieq dan FPI membuat acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan acara perkawinan putrinya di Petamburan hingga menimbulkan kerumunan.

Rizieq sempat ditahan oleh kepolisian hingga kemudian kasus masuk ke persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Selama persidangan, Rizieq selalu membela diri bahwa dirinya tidak bersalah lantaran telah membayar denda usai dinyatakan melanggar protokol kesehatan.

Pihak jaksa kemudian mengajukan tuntutan agar Rizieq diberi hukuman pidana penjara selama dua tahun. Tak hanya itu, dalam kasus ini, Rizieq juga dilarang untuk bergabung menjadi pengurus ormas selama tiga tahun akibat perkara tersebut.

Perkara kerumunan massa di Petamburan bermula ketika Rizieq menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menggelar acara pernikahan putrinya di pada 14 November 2020. Kegiatan itu berselang setelah Rizieq tiba di Indonesia dari Arab Saudi pada 10 November 2020.

Acara tersebut diperkirakan melibatkan massa kurang lebih 5.000 orang. Dalam dakwaannya, jaksa menilai acara itu tak mengindahkan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.

Dalam pledoinya, Rizieq berharap majelis hakim menjatuhkan vonis bebas murni dalam perkara kerumunan massa di Petamburan Jakarta Pusat demi tegaknya keadilan.

Sementara dalam perkara kerumunan Megamendung, Rizieq telah dijatuhi vonis denda Rp20 juta yang jika tak dibayar diganti 5 bulan penjara.

Hakim: Rizieq Cs Tak Terbukti Menghasut Kerumunan Petamburan

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur mengatakan bahwa pentolan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dan lima terdakwa lainnya tak terbukti melakukan penghasutan di perkara kerumunan di acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Petamburan, Jakarta Pusat.

Rizieq divonis bersama lima terdakwa lainnya dalam perkara yang sama yakni, Ahmad Shabri Lubis, Haris Ubaidillah, Ali bin Alwi Alatas, Maman Suryadi dan Idrus.

"Sesuai fakta tidak ada melakukan penghasutan," kata Ketua Majelis Hakim Suparman Nyompa saat membacakan pertimbangan di PN Jaktim, Kamis (27/5).

Diketahui, Jaksa mendakwa Rizieq dengan lima pasal alternatif. Salah satunya pasal penghasutan atau Pasal 160 KUHP juncto Pasal 93 Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dari lima pasal tersebut, Rizieq hanya terbukti pada dakwaan melanggar Pasal 93 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Hakim menilai pasal penghasutan yang didakwakan jaksa sangat berat apabila dituduhkan kepada para terdakwa.

"Tuntutan pidana tersebut jika memperhatikan perbuatan dan kesalahan terdakwa dipandang agak berat bagi terdakwa-terdakwa karena penuntut umum mendasarkan tuntutan pada dakwaan pertama pada pasal 160 KUHP," ucap hakim.

Selain itu, hakim juga mempertimbangkan hal yang memberatkan dan yang meringankan dalam perkara tersebut. Pertimbangan yang memberatkan yakni Rizieq cs dinilai tidak mendukung program pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

Sementara yang hal meringankan, Rizieq cs dinilai jujur dalam persidangan sehingga memudahkan jalannya sidang.

"Terdakwa juga mempunyai tanggungan keluarga, dan terdakwa-terdakwa sebagai guru agama islam," kata hakim Suparman. []

Komentar

Loading...